Alam Semesta Tanda Kebesaran-Nya

Surah Yunus (10) ayat 5
Artinya :
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
Matahari merupakan salah satu benda luar angkasa yang sangat penting bagi benda-benda di sekelilingnya, termasuk planet-planet yang dekat dan mengitari matahari termasuk bumi. Bumi juga mempunya satelit alami yakni bulan yang merupakan benda yang juga sangat penting bagi keberlangsungan semua makhluk yang ada di bumi.
Matahari, bulan dan bintang banyak menghiasi langit di bumi baik siang maupun malam. Penciptaan matahari dan bulan bukan hanya sekedar untuk penghias langit bumi. Matahari dan bulan juga dijadikan sebagai patokan dalam perhitungan waktu, tanggal, penanda siang dan malam, dan untuk umat muslim Matahari dan Bulan lebih istimewa lagi karena dijadikan sebagai patokan untuk menentukan waktu sholat, awal bulan Ramadhan saat muslim mulai berpuasa, awal Syawal, serta awal Dzulhijjah saat jamaah haji wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).
Dalam ayat tersebut juga di katakan “Dan Allah menetapkannya.” Maksudnya adalah bulan. “Tempat-tempat bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.”  Maka dengan matahari, kamu mengetahui hari, dan dengan bulan kamu mengetahui bilangan bulan-bulan dan tahun-tahun. Matahari dan bulan juga bergerak sesuai dengan garis edarnya. (Mulia, 2015)
Diperkuat dengan Surah Al-Anbiya (21) ayat 33, yang berbunyi :

Artinya :
Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”
            Matahari merupakan bintang di Tata Surya karena Matahari merupakan benda langit yang dapat menghasilkan dan memancarkan cahayanya sendiri, di matahari terjadi reaksi fisi dan reaksi fusi nuklir gas hidrogen dan helium. Reaksi nuklir tersebut memancarkan panas, cahaya, dan berbagai sinar radiasi. Matahari merupakan bintang besar yang memiliki diameter sekitar 1.392.684 km, kira-kira 109 kali diameter Bumi, dan massanya (sekitar 2×1030 kilogram, 330.000 kali massa Bumi) mewakili kurang lebih 99,86 % massa total Tata Surya. Jarak dari Matahari ke Bumi sekitar 1 SA (Satuan Astronomi) sama dengan 150 juta km atau 1,5 x 10 pangkat 8 km dan  cahaya yang  bergerak dari Matahari ke Bumi selama 8 menit 19 detik. Energi sinar Matahari ini membantu perkembangan nyaris semua bentuk kehidupan di Bumi melalui fotosintesis dan mengubah iklim dan cuaca Bumi. Matahari berotasi pada sumbunya dengan selama sekitar 27 hari untuk mencapai satu kali putaran. Matahari dan keseluruhan isi tata surya bergerak di orbitnya mengelilingi galaksi Bimasakti, Matahari terletak sejauh 28.000 tahun cahaya dari pusat galaksi Bimasakti. Kecepatan rata-rata pergerakan ini adalah 828.000 km/jam sehingga diperkirakan akan membutuhkan waktu 230 juta tahun untuk mencapai satu putaran sempurna mengelilingi galaksi. (Wikipedia, 2015)
            Bulan merupakan satelit alami bumi yang memiliki diameter 27%, kepadatan 60%, dan massa 181 (1.23%) dari Bumi. Bulan merupakan benda langit yang paling terang kedua setelah Matahari. Dari Bumi, Bulan terlihat berwarna putih dan terang tapi sebenarnya permukaan Bulan sangat gelap dengan tingkat kecerahan sedikit lebih tinggi dari aspal cair. Bulan terlihat cerah dari Bumi disebabkan oleh peningkatan kecerahan akibat efek oposisi; pada fase bulan seperempat, hanya sepersepuluh bagian Bulan yang terang, bukannya seperempat. Selain itu, konstansi warna pada sistem visual Bulan mengkalibrasi hubungan antara warna objek dan sekitarnya; karena langit di sekitar Bulan relatif gelap, Bulan yang diterangi Matahari tampak sebagai benda langit yang terang. Bagian pinggir bulan purnama tampak sama terang dengan bagian tengahnya, tanpa pengelaman tungkai, karena sifat reflektif dari tanah Bulan, yang merefleksikan lebih banyak cahaya ke arah Matahari daripada ke arah lainnya. Bulan menyelesaikan orbit lengkap mengelilingi Bumi setiap 27,3 hari sekali (periode sideris). Akan tetapi, karena Bumi bergerak pada orbitnya mengelilingi Matahari pada waktu yang bersamaan, dibutuhkan waktu yang sedikit lebih lama bagi Bulan untuk memperlihatkan fase yang sama ke Bumi, yaitu sekitar 29,5 hari (periode sinodik). (Wikipedia, 2015)
            Perhitungan yang tepat terhadap letak, garis edar (orbit) yang dimiliki Matahari dan Bumi menyebabkan adanya siang dan malam sesuai dengan waktunya. Matahari yang terbit dari ufuk timur pada pagi hari, dan bergerak untuk tenggelam di ufuk barat menjelang malam hari. Penempatan waktu dan penanggalan, pasang surut air laut bergantung pada pergerakan Matahari dan Bulan. Sebagai contoh menentukan waktu sholat :
·         Sholat Dzuhur yakni apabila Matahari telah tergelincir, dengan objek tongkat yang di tancapkan, apabila bayangan yang berada di arah barat lama kelamaan akan memendek dan menghialng, lalu perlahan memanjang kembali maka sudah masuk sholat dzuhur.
·         Sholat Ashar panjang bayangan tongkat lebih panjang dari tongkat yang ditancapkan itu sendiri.
·         Sholat Magrib ditandai dengan tidak ada lagi sinar Matahari dari arah barat, dan akhir sholat magrib ditandai dengan hilangnya warna kemerah-merahan dilangit.
·         Hilangnya warna kemerah-merahan dilangit juga merupakan tanda awal masuk sholat Isya.
·         Awal waktu Subuh ketika fajar merekah. (Putuadi, 2015)
Selain Matahari yang digunakan sebagai patokan penentu waktu masuk sholat, Bulan juga sebagai penentu penanggalan awal bulan Syawal dengan melihat hilal dengan melihat bulan secara langsung/rukyat. Hilal merupakan penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Dilakukan setelah matahari terbenam, jika hilal terlihat maka telah memasuki bulan Syawal, dan jika belum terlihat dilakukan setelah magrib hari berikutnya. Tetapi ada sebagian orang yang tidak melihat bulan dalam menentukan awal Syawal, mereka menggunakan perhitungan (hisab).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً ، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ
Apabila bulan telah masuk kedua puluh sembilan malam (dari bulan Sya’ban, pen). Maka janganlah kalian berpuasa hingga melihat hilal. Dan apabila mendung, sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga  puluh hari.”
Penentuan awal bulan Ramadhan, awal Dzulhijah saat haji wukuf di Arafah, dan Idul Adha juga menggunakan Matahari dan Bulan sebagai patokaan perhitungan. (Tuasikal, 2009)
            Penurunan ayat-ayat diatas merupakan bukti tanda kekuasaan Allah yang nyata, yang dapat dilihat oleh siapapun dan kapanpun, Bahkan ayat-ayat tersebut turun sebelum ilmu moderen mulai membahas dan menelitinya. Allah menciptakan bermacam-macam hal termasuk Matahari dan Bulan adalah dengan hak, maksudya terdapat manfaat di dalamnya. Banyak sekali manfaat yang bisa kita nikmati dari adanya Matahari dan Bulan dalam kehidupan terutama kehidupan Bumi. Selain itu terdapat ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam Matahari dan Bulan yang semestinya sebagai seorang muslim kita wajib mengetahui, mempelajari, memahami dan menggali lagi semua yang menjadi tanda-tanda kebesaran dan rahmat Allah SWT.


1 komentar: Leave Your Comments

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html