Artinya:
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu,
kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannnya awan.
(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu;
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Banyak
dari umat Islam yang kemudian mengartikan bahwa “berjalannya” gunung-gunung
menunjukkan adanya pergerakan bumi pada porosnya karena gunung sendiri itu
menancap di bumi sehingga ketika bumi berotasi dapat diartikan bahwa
gunung-gunung pun ikut “berjalan. Ada lagi yang menginterpretasikan bahwa
“berjalannya” gunung-gunung memang terjadi karena adanya gerakan kerak bumi
tempat kita berada. Kerak bumi mengapung di atas lapisan magma yang lebih
rapat. Pertama kali pada awal abad ke-20 seorang ilmuan Jerman bernama Alfred
Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada
masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga
terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Ibnu
Katsir menyebutkan bahwa gunung-gunung itu bergerak seperti jalannya awan. Ia
bergeser dari kediamanya, sebagaimana firman Allah pada surah At-Thuur ayat
9-10 yang artinya:
“Pada hari ketika langit benar-benar
bergoncang dan gnung-gunung benar-benar berjalan.”
Adalagi
dalam surat Al-Kahfi ayat 47 yang artinya:
“Dan (ingatlah) akan hari (yang
ketika itu) kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu
datar dan kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun
dari mereka.”
Bergeraknya
gunung-gunung yang dijelaskan dalam surah An-Naml ayat 88 juga berhubungan
dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya yakni ayat 87 dan 89 berhbungan dengan
huru-hara hari akhir : (Dan kamu lihat gunubng-gunung itu) yakni kamu saksikan
gunung-gunung itu sewaktu terjadinya tiupan malaikat Israfil (kamu sangka dia)
(tetap) diam ditempatnya karena besarnya (padahal ia berjalan sebagai jalannya
awan) bagaikan hujan yang tertiup angina, maksudnya gunung-gunung itu tampak
seolah-olah tetap, padahal berjalan lambat seperti awan saking besarnya.
Kemudian jatuh ke bumi lalu hancur lebur kemudian menjadi abu bagaikan
bulu-bulu yang beterbangan. (Begitulah perbuatan Allah) lafalshun’a merupakan
masdar yang merupakan masdar yang megukuhkan jumlah sebelumnya yang kemudian
di-mudhaf-kan kepada fall-nya sesudah ‘amilnya dibuang, bentuk asalnya ialah
shana’allah dzalika shun’an. Selanjutnya hanya sebutkan lafal shun’a yang
kemudian dimudhaf-kan kepada fa’il-nya yaitu lafal Allah. Sehingga jadilah shun’allahi,
artinya begitulah perbuatan Allah (yang membuat dengan kokoh) rapih dan kokoh
(tiap-tiap sesuatu) yang dibuat-Nya (sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa
yang kalian kerjakan) lafal taf’alunadapat dibaca yaf’aluna yakni perbuatan
maksiat yang dilakukan dengan musuh-musuh-Nya dan taat yang dilakukan oleh
kekasih-kekasih-Nya.
sumber:
Bermanfaat sekali, terimakasih
BalasHapusYa, saya juga bingung kenapa para ulama menghubung2kan gunung berjalan dengan sains. Memang pasti alquran akan sesuai dengan ilmu eksak, tapi dalam konteks ini bukan bicara ttg itu, tpi konteks kiamat..
BalasHapusGunung berjalan saat kiamat, bukan berbicara ttg gunung selalu berjalan. Kalau penjelasannya, kiamat nanti akan trjadi bencana likuifasi (tanah menjadi cair) sehingga gunung seolah bergeser, seperti yang terjadi di palu..
Semoga saja ini dapat merubah pembaca ttg hakikat makna gunung berjalan yg sesungguhnya